Jan 5, 2026

Budaya Minang : Adat Besandi Sarak, Sarak Basandi Kitabullah

Budaya Minangkabau memiliki falsafah hidup yang sangat kuat dan menjadi pedoman dalam seluruh aspek kehidupan masyarakatnya, yaitu Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK). Falsafah ini bermakna bahwa adat atau kebiasaan hidup orang Minangkabau harus berlandaskan pada syariat Islam, dan syariat Islam itu sendiri bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis. Prinsip ini tidak hanya menjadi slogan, tetapi benar-benar diterapkan dalam sistem sosial, hukum adat, pendidikan, dan kehidupan sehari-hari masyarakat Minangkabau. Dengan demikian, adat dan agama tidak dipisahkan, melainkan saling menguatkan dan melengkapi. Nilai ABS-SBK menjadikan masyarakat Minangkabau memiliki identitas yang religius, berakhlak, serta menjunjung tinggi nilai moral dan etika dalam berinteraksi dengan sesama. Dalam praktik kehidupan sosial, falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah tercermin dalam berbagai aturan adat yang mengatur hubungan antarindividu maupun kelompok. Misalnya, dalam tata cara bermusyawarah, penyelesaian konflik, hingga pengambilan keputusan di nagari, selalu mengedepankan nilai keadilan, kejujuran, dan kebijaksanaan yang sejalan dengan ajaran Islam. Para pemangku adat seperti ninik mamak, alim ulama, dan cadiak pandai memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan antara adat dan syarak. Mereka bekerja sama untuk memastikan bahwa adat yang dijalankan tidak bertentangan dengan ajaran agama, sehingga tercipta kehidupan masyarakat yang harmonis, tertib, dan bermartabat. Penerapan prinsip ABS-SBK juga terlihat jelas dalam sistem keluarga dan kekerabatan Minangkabau yang menganut sistem matrilineal. Meskipun garis keturunan ditarik dari pihak ibu, nilai-nilai Islam tetap menjadi dasar dalam pembinaan akhlak, pendidikan anak, dan tanggung jawab keluarga. Peran ayah sebagai pemimpin spiritual keluarga tetap dijunjung tinggi, sementara mamak (paman dari pihak ibu) berperan sebagai pembimbing adat. Dengan berlandaskan syarak, sistem matrilineal ini tidak bertentangan dengan ajaran Islam, melainkan disesuaikan agar tetap menjunjung nilai keadilan, tanggung jawab, dan keharmonisan keluarga. Hal ini menunjukkan kemampuan budaya Minangkabau dalam mengintegrasikan adat dan agama secara seimbang. Dalam bidang pendidikan dan pembentukan karakter, falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah memiliki peran yang sangat penting. Sejak kecil, anak-anak Minangkabau diajarkan nilai-nilai agama, sopan santun, serta adat istiadat yang berlaku di lingkungan mereka. Pendidikan tidak hanya dilakukan di sekolah formal, tetapi juga melalui surau, keluarga, dan lingkungan masyarakat. Surau menjadi pusat pendidikan agama dan budaya, tempat generasi muda belajar mengaji, memahami ajaran Islam, serta mengenal adat Minangkabau. Dengan demikian, ABS-SBK berfungsi sebagai fondasi dalam membentuk generasi yang berilmu, berakhlak mulia, dan memiliki jati diri budaya yang kuat. Di tengah arus globalisasi dan perkembangan zaman, falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah tetap relevan dan menjadi benteng budaya masyarakat Minangkabau. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya mampu menjadi pedoman dalam menghadapi tantangan modern, seperti perubahan sosial, budaya, dan teknologi. Dengan berpegang teguh pada prinsip adat yang berlandaskan syariat Islam, masyarakat Minangkabau dapat menyaring pengaruh luar tanpa kehilangan identitas dan nilai luhur budayanya. Oleh karena itu, ABS-SBK tidak hanya merupakan warisan budaya, tetapi juga sumber kekuatan moral dan spiritual yang perlu terus dijaga, dilestarikan, dan diwariskan kepada generasi mendatang.

No comments:

Post a Comment